Pengaruh Pergaulan Teman Terhadap Perilaku Siswa
Click here!
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja
merupakan masa yang penuh problema. Dalam masa ini tidak sedikit remaja yang
mengalami kegoncangan yang menyebabkan munculnya emosional yang belum stabil
sehingga mudah melakukan pelanggaran terhadap norma-norma dalam masyarakat.
Remaja sebagai manusia yang sedang tumbuh dan berkembang terus melakukan
interaksi sosial baik antara remaja maupun terhadap lingkungan lain. Melalui
proses adaptasi, remaja mendapatkan pengakuan sebagai anggota kelompok baru
yang ada dalam lingkungan sekitarnya. Remaja pun rela menganut kebiasaan-kebiasaan
yang berlaku dalam suatu kelompok remaja. Dalam pergaulan
remaja, kebutuhan untuk dapat diterima bagi setiap individu merupakan suatu hal
yang sangat mutlak sebagai mahluk sosial. Setiap anak yang memasuki usia remaja
akan dihadapkan pada permasalahan penyesuaian sosial, yang diantaranya adalah
problematika pergaulan teman sebaya. Pembentukan sikap, tingkah laku dan
perilaku sosial remaja banyak ditentukan oleh pengaruh lingkungan ataupun
teman-teman sebaya. Apabila lingkungan sosial itu
menfasilitasi atau memberikan peluang terhadap remeja
secara positif, maka remaja akan mencapai perkembangan
sosial secara matang. Dan apabila lingkungan sosial
memberikan peluang secara negatif terhadap remaja, maka perkembangan sosial
remaja akan terhambat (Devy irawati, 2002). Pengaruh
lingkungan diawali dengan pergaulan dengan teman. Pada usia 9-15 tahun hubungan
perkawanan merupakan hubungan yang akrab yang diikat oleh minat yang sama,
kepentingan bersama, dan saling membagi perasaan, saling tolong menolong untuk
memecahkan masalah bersama. Peran teman sebaya dalam pergaulan remaja menjadi
sangat menonjol. Hal ini sejalan dengan meningkatnya minat individu dalam
persahabatan serta keikut
sertaan dalam kelompok. Kelompok teman sebaya juga menjadi suatu komunitas
belajar di mana terjadi pembentukan peran dan standar sosial yang berhubungan
dengan pekerjaan dan prestasi (Santrock, 2003 : 257). Berdasarkan pra
penelitian di lapangan bahwa dalam suasana belajar ataupun waktu istrahat
sedang berlangsung, baik siswa laki-laki maupun perempuan menghabiskan
banyak waktunya bersama dengan teman-temannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan. Adapun permasalahan
tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengertian pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa?
2. Macam-macam pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa?
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergaulan teman terhadap perilaku siswa?
4. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari pengaruh pergaulan teman terhadap
perilaku siswa?
5. Contoh-contoh pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa?
1. Dampak
Positif?
2. Dampak
Negatif?
6. Masalah yang ditimbulkan dari pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku
siswa?
7. Solusi terhadap masalah yang ditimbulkan karena adanya pengaruh pergaulan
teman terhadap perilaku siswa?
1.2 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa.
2.
Untuk mengetahui macam-macam pengaruh
pergaulan teman terhadap perilaku siswa.
3.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi pergaulan teman terhadap perilaku siswa
4.
Untuk mengetahui dampak-dampak yang
ditimbulkan dari pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa.
5.
Untuk mengetahui contoh-contoh pengaruh
pergaulan teman terhadap perilaku siswa.
6.
Untuk mengetahui masalah yang ditimbulkan
dari pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku siswa.
7.
Untuk mengetahui solusi terhadap masalah
yang ditimbulkan karena adanya pengaruh pergaulan teman terhadap perilaku
siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1
Pengertian
Pengaruh Pergaulan Teman terhadap Perilaku Siswa SMP Negeri 20 Malang
Kata pergaulan identik dengan kata “gaul” mengulas tentang kata gaul pada
peradaban kejayaan romawi ada suku yang bernama suku gaul yang pada waktu itu
bangsa gaul menjadi budak kaum romawi, konon katanya mereka diberi nama bangsa
gaul dikarenakan mereka memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda dengan
bangsa atau suku lainnya, yang dimana mereka lebih cenderung memiliki
sifat afatisme dan hedonisme yang artinya mereka akan melakukan apapun untuk
mencapai tujuannya. Akan tetapi sikap persekawanan yang mereka
miliki sangat disambut mesra oleh bangsa atau suku lainnya karna mereka
memiliki sifat persekawanan yang kuat, salah atau benar sesuatu itu mereka
tetap memperjuangkannya. Mengingat tentang perjuangan atau pemberontakan kaum
Sparta dari belenggu perbudakan dimana kepercayaan bangsa gaul diberikan oleh
kaum Sparta untuk mencapai kebebasan dari belenggu perbudakan, walaupun pada
waktu itu kepercayaan orang Sparta terhadap bangsa gaul terpecah dikarenakan
adanya bangsa gaul yang lainnya menjadi pengkhianat atau dengan kata lain lebih
memilih menjadi pengikut bangsa romawi akan tetapi tidak mengendurkan semangat
perlawanan mereka. Setelah transisi masa
peradaban modern seirirng dengan majunya teknologi mulailah
bermunculan berbagai jenis fashion sebagai bentuk pengejawantahan ekspresi
pergaulan. Sekilas penjelasan dari argumentative diatas dapat ditarik sebuah
benang merah pergaulan yang artinya menjunjung tinggi kebersamaan,
persekawanan, dan persaudaraan.
Sekilas tentang penjelasan sejarah pergaulan di ala Eropanya, pergaulan
dalam arti masyarakat pribumi interaksi antara sesama dengan maksud
untuk membangun hubungan emosional. Akan tetapi pengertian pergaulan
telah menyimpang dari perbuatan para remaja masa kekinian, kebanyakan diantara
para remaja menganggap bahwa pergaulan yang mereka maksud adalah identik dengan
tata penggunaan bahasa maupun fashion, mereka
beranggapan siapa yang tidak tau berarti tidak modern, sebagai
contoh kata LO dan GUE padahal dalam ejaan bahasa Indonesia yang baku tidak ada
kata LU dan GUE, hal inilah yang terkadang menimbulkan kebingungan dalam
konteks kehidupan masyarakat.
Bila kita ingin bercermin dikonteks ala Eropa pergaulan mereka jadikan
sebagai alat untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai contoh terjadinya revolusi
Prancis disaat ditemukannya mesin uap, sehingga majunya peradaban ala Eropa
dikarenakan adanya dukungan sosial. Hal inilah yang seharusnya menjadi cerminan
bagi para kaum remaja adanya penemuan karna adanya inspirasi dan dukungan
social sehingga adanya kebebasan dalam berpikir. Bukannya berpikir afatisme
yang cenderung ingin melakukan kesenangan toh saja yang biasanya orang seperti
ini tidak pernah mengalami kemajuan karena hanya memikirkan kesenangan toh
saja, begitu pula dengan bersikap naif yang cenderung hanya memikirkan diri
sendiri biasanya orang seperti ini hanya memikirkan dirinya toh saja, tanpa
harus melihat status.
Dari apa yang diuraikan diatas dapat disimpulkan pergaulan adalah sebagai
bentuk interaksi dengan tujuan membangun suatu kebersamaan, persaudaraan dan
persekawanan.
2.2
Macam-macam
pengaruh pergaulan terhadap perilaku siswa
2.2.1
Menurut
siapa yang terlibat dalam pergaulan itu, maka dibedakan menjadi:
1. Pergaulan
anak dengan anak
2. Pergaulan
anak dengan orang dewasa
Pergaulan orang dewasa dengan orang dewasa
2.2.2 Dipandang
dari bidangnya, pergaulan dibedakan menjadi:
1. Pergaulan
yang bersifat ekonomis
2. Pergaulan
yang bersifat seni
3. Pergaulan
yang bersifat paedagogis
2.2.3 Ditinjau dari pergaulan itu, dapat
digunakan rentang-rentang untuk
membedakannya
menjadi:
1. Pergaulan
ekonomis dan tidak ekonomis;
2. Pergaulan
seni dan bukan seni;
3. Pergaulan
paedagogis dan bukan paedagogis;
Di dalam pergaulan yang tidak paedagogis,
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pergaulan biasa dan pergaulan paedagogis.
Pergaulan biasa dapat diubah menjadi pergaulan paedagogis, walaupun secara perlahan-lahan.
Situasi yang tepat untuk mengubah pergaulan biasa menjadi pergaulan paedagogis
adalah bilamana dalam situasi itu berlangsung suatu pengaruh positif yang
berasal dari orang tua yang ditujukan kepada peserta didik. Tetapi ketika
pengaruh perpindahan pengaruh itu berhenti, maka pergaulan paedagogis itu
berubah kembali menjadi pergaulan biasa, dan begitu seterusnya.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergaulan terhadap Perilaku Siswa
Sebagai makhluk sosial, individu dituntut
untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan
aturan atau norma yang berlaku. Begitu juga dengan pergaulan pada remaja, ada
dua faktor yang dapat mempengaruhinya sebagai berikut.
2.3.1 Intern
2.3.1.1 Kondisi fisik
Penampilan fisik
merupakan aspek penting bagi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Mereka biasanya mempunyai standar-standar tertentu tentang sosok fisik ideal
yang mereka dambakan. Misalnya, standar cantik adalah postur tinggi, tubuh
langsing dan berkulit putih. Namun tentu saja tidak semua remaja memiliki
kondisi fisik se ideal itu. Karenanya, remaja harus bisa belajar menerima dan
memanfaatkan bagaimanapun kondisi fisik seefektif mungkin. Remaja harus menanamkan
keyakinan bahwa keindahan lahirlah bukannya makna kecantikan yang sesungguhnya.
Kecantikan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak, serta kepribadian
yang baik.
2.3.1.2 Kebebasan Emosional
Pada umumnya, remaja
ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja
yang mereka sukai. Dalam masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, seorang
remaja senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya, diakui dan
disejajarkan dengan orang dewasa. Dengan demikian, jika terjadi perbedaan
pendapat anatara anak dan orang tua, maka pendekatan yang bersifat demokratis
dan terbuka akan terasa lebih bijaksana. Salah satu cara yang dapat dilakukan
adalah membangun rasa saling pengertian dimana masing-masing pihak berusaha
memahami sudut pandang pihak lain. Saling pengertian juga dapat dibangkitkan
dengan bertukar pengalaman atau dengan melakukan beberapa aktivitas tertentu
bersama-sama dimana orang tua dapat menempatkan diri pada situasi remaja dan
sebaliknya. Inti dari metode pemecahan konflik yang aman antara orang tua dan
anak adalah menjadi pendengar yang aktif.
2.3.1.3 Interaksi
sosial
Kemampuan untuk
melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang
positif, sehingga seseorang mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten
dan disenangi oleh lingkungan.
Dia memiliki gambaran
yang wajar tentang dirinya sesuai dengan kenyataan yang ada (tidak dikurangi
atau dilebih-lebihkan).
3.1.4 Pengetahuan
terhadap kemampuan diri
Setiap kelebihan atau
potensi yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya harus
terus digali dan dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Kita melihat
sejauh mana potensi itu ada dan dijalur mana potensi itu terkonsentrasi untuk
selanjutnya diperdalam, hingga dapat melahirkan karya yang berarti. Dengan
menerima kemampuan diri secara positif, seorang remaja diharapkan lebih mampu
menentukan keputusan yang tepat terhadap apa yang akan ia jalani, seperti
memilih sekolah atau jenis kegiatan yang diikuti.
2.3.1.5 Penguasaan diri terhadap
nilai-nilai moral dan agama
William James, seorang psikolog yang
mendalami psikologi agama, mengatakan bahwa orang yang memiliki komitmen
terhadap nilai-nilai agama cenderung mempunyai jiwa yang lebih sehat. Kondisi
tersebut ditampilkan dengan sikap positif, optimis, spontan, bahagia, serta
penuh gairah dan vitalitas. Sebaliknya, orang yang memandang agama sebagai
suatu kebiasaan yang membosankan atau perjuangan yang berat dan penuh beban
akan memiliki jiwa yang sakit. Dia akan dihinggapi oleh penyesalan diri, rasa
bersalah, murung, serta tertekan.
2.3.2 Extern
2.3.2.1 Lingkungan
Keluarga
Banyak persoalan yang
mengganggu kebahagiaan hidup, adalah masalah hubungan orang tua dengan anaknya
yang telah dewasa. Tidak jarang banyak orang tua yang mengeluh terhadap sikap
anaknya. Bahkan ada orang tua yang merasa kalau anaknya tiba-tiba menjadi
nakal, suka melawan, tidak patuh, dan sering membuat masalah.
Tidak sedikit pula
para remaja, merasa kurang bahwa orang tuanya tidak mau mengerti perasaannya.
Sehingga mereka menjadi bingung, cemas, dan gelisah. Dengan perasaan itulah
mereka mudah terkena pengaruh yang tidak baik dari luar. Apalagi kalau kita
lihat sekarang ini, makin banyak kenyataan hidup yang tidak menyenangkan
terutama dalam hal masyarakat modern ini. Dimana agama tidak lagi diindahkan,
mungkin akibat teknologi yamg sudah sangat maju.
Keluarga dan rumah
merupakan pelabuhan yang aman dan tambatan yang kokoh bagi setiap anggota
keluarga terutama remaja. Ayah, ibu, dan anak adalah suatu basis dimana secara
teratur dan harmonis seluruh keluarga berkumpul untuk berkomunikasi dan
berbincang-bincang baik dalam hal yang menggembirakan ataupun ketika sedang
menghadapi kesulitan.
Keluarga merupakan
kesatuan daripada masyarakat kecil, yang mempunyai motivasi dan tujuan hidup
tertentu dimana ayah, ibu, dan anak mempunyai fungsi dan tanggungjawab saling
mengisi.
Tidak adanya komunikasi
antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu
perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti
terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan
terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2.3.2.2 Lingkungan
Sekolah
Sekolah merupakan tempat
pendidikan formal, yang secara teratur dan terencana melakukan pembinaan
terhadap generasi muda. Fungsi sekolah tidak hanya memberikan pengajaran dan
pendidikan secara formal, melainkan semua tenaga dan alat pengajaran merupakan
unsur pembinaan bagi generasi muda, artinya guru bukan hanya mendidik akan
tetapi seorang guru harus menjadi contoh tauladan bagi anak didiknya dalam
segala hal baik, sikap, kepribadian, cara pergaulan, ketaatan terhadap agama,
cara berpakaian dan penampilannya. Semua ini adalah unsur-unsur penting dalam
pembinaan anak didik. Karena guru merupakan orang tua kedua ketika kita berada
dalam lingkungan sekolah.
Seorang guru dapat
mengubah jiwa anak yang pendiam, pemalu, malas ataupun tidak bersemangat
menjadi terbuka, pemberani, rajin, dan penuh gairah. Dan sebaliknya guru dapat
mengubah dan merusak anak yang baik, menjadi nakal, pemalas, pembolos, bahkan
ada juga yang membenci pelajaran. Bahkan guru dapat mengubah keyakinan anak
didiknya dari taat beragama menjadi tidak taat dan akhirnya meninggalkan ajaran
agamanya.
2.3.2.3 Lingkungan
Masyarakat
Pada usia remaja,
pengaruh lingkungan masyarakat kadang-kadang lebih besar pengaruhnya daripada
lingkungan keluarga, sebab masa remaja adalah masa yang sedang mengembangkan
kepribadiannya, yang membutuhkan lingkungan teman-teman dan masyarakat.
Perhatian mereka terhadap lingkungan masyarakat benar-benar diperhatikannya,
maka persoalan masyarakat atau nasib orang banyak sering kali menjadi perhatian
mereka dan mereka berjuang untuk membela yang lemah dan menderita itu.
Pengaruh lain dari
lingkungan masyarakat adalah pengaruh yang bersifat: pornografis, sadisme,
film-film yang merusak moral, gambar-gambar, bacaan-bacaan, tempat rekreasi dan
lain sebagainya yang pada pokoknya berbagai kegiatan yang disenangi oleh
muda-mudi zaman sekarang. Ini semua harus dibatasi kalau perlu harus
disesuaikan dengan ketentuan yang ada di dalam ajaran agama, sebab kalau tidak
pengaruhnya akan lebih berbahaya dibanding pengaruh lain.
Faktor lain juga sangat
penting dalam pembinaan remaja di dalam mengenal lingkungan misalnya adanya
semacam kelompok dalam masyarakat yaitu organisasi kemasyarakatan. Organisasi
kemasyarakatan mempunyai fungsi dan peranan yang positif dalam pembinaan
remaja, sebab di situ remaja dilatih dan dididik untuk bermasyarakat.
2.4 Dampak-dampak yang Ditimbulkan dari Pergaulan Teman terhadap Perilaku
Siswa
Dampak-dampak yang dapat ditimbulkan dari pengaruh pergaulan terhadap
perilaku, dibagi menjadi dua yaitu dampak posititif dan dampak negatif.
2.4.1 Dampak positif adanya pergaulan
Dampak positif
dari pergaulan adalah mampu membentuk kepribadian yang baik yang bias diterima
di berbagai lapisan sehinggan bisa tumbuh dan berkembang menjadi sosok individu
yang pantas diteladani.
2.4.2 Dampak negatif adanya pergaulan
Dampak negatif dari
pergaulan adalah tumbuh menjadi sosok individu dengan kepribadian yang
menyimpang. Misalnya, seseorang yang tadinya tidak menggunakan narkoba, meminum
minuman keras, melakukan pelanggaran berat, pecandu seks bebas, dan lain
sebagainya, bisa menjadi seperti seseorang yang menjadi pribadi seperti hal
diatas, karena seseorang tersebut tidak bisa memilah-milah pergaulannya
sendiri. Seseorang yang biasanya salah masuk pergaulan adalah
orang-orang yang ‘dibuang’ dari lingkungannya/orang-orang yang dikucilkan di
sekitarnya, orang tersebut melakukan hal sebenarnya salah karena disebabkan
oleh dua hal. Yaitu (1) karena orang tersebut tidak dengan ikhlas/secara
terpaksa melakukan itu dan tidak berani menolak, dan (2) karena orang tersebut
ingin menjadi orang yang terpandang disekitarnya, maka dari itu orang tersebut
bersedia untuk melakukan apapun yang dia bisa, meskipun perilaku itu sudah
menyalahi aturan.
2.5 Contoh-contoh Pengaruh Pergaulan Teman terhadap Perilaku Siswa
2.5.1 Contoh positif pengaruh
pergaulan terhadap perilaku
Seseorang yang tidak terlalu tinggi dalam
segi intelektual atau pretasi nya bergabung dengan sekelompok orang yang cukup
tinggi dalam segi tersebut, maka seiring berjalannya waktu seseorang tersebut
mampu mengikuti/terpengaruhi oleh sekelompok orang tersebut (yang tadinya lemah
menjadi cukup baik dalam intelektual dan prestasinya). Hal itu juga berlaku dalam berbagai bentuk bidang pergaulan
lainnya.
Adapun
juga perubahan positif yang ditimbulkan oleh pergaulan terhadap perilaku, yaitu
seseorang lebih terpacu untuk bersaing sehat dalam prestasi belajar atau
kebiasaan baik seseorang dapat timbul dengan sendirinya seiring berjalannya
waktu seseorang tersebut mengalami interaksi pergaulan, misalnya; lebih bisa
mengatur waktu, disiplin terhadap waktu, rajin beribadah, dan lain sebagainya.
2.5.2 Contoh negatif pengaruh pergaulan
terhadap perilaku
Seseorang
yang tadinya tidak menggunakan narkoba, meminum minuman keras, melakukan
pelanggaran berat, pecandu seks bebas, dan lain sebagainya, bisa menjadi
seperti seseorang yang menjadi pribadi seperti hal diatas, karena seseorang
tersebut tidak bisa memilah-milah pergaulannya sendiri. Seseorang
yang biasanya salah masuk pergaulan adalah orang-orang yang ‘dibuang’ dari
lingkungannya/orang-orang yang dikucilkan di sekitarnya, orang tersebut melakukan
hal sebenarnya salah karena disebabkan oleh dua hal. Yaitu (1) karena orang
tersebut tidak dengan ikhlas/secara terpaksa melakukan itu dan tidak berani
menolak, dan (2) karena orang tersebut ingin menjadi orang yang terpandang
disekitarnya, maka dari itu orang tersebut bersedia untuk melakukan apapun yang
dia bisa, meskipun perilaku itu sudah menyalahi aturan.
Adapun
juga perubahan negatif yang ditimbulkan oleh pergaulan terhadap perilaku, yaitu
berubahnya perilaku seseorang yang baik menjadi seseorang yang sering pulang
malam, melanggar aturan dan norma yang berlaku, bertindak kasar terhadap
sesame,melawan tata krama yang ada, melawan dengan kasar orang tua, dan lain
sebagainya.
2.6 Masalah yang Ditimbulkan dari Pengaruh Pergaulan Teman terhadap
Perilaku Siswa
2.6.1 Penyalahgunaan Narkoba atau Napza
Narkoba (Narkotika dan Obat/Bahan Berbahaya) adalah istilah yang
digunakan oleh penegak hukum dan masyarakat. Yang dimaksud dengan bahan yang
berbahaya adalah bahan yang tidak aman digunakan atau membahayakan penggunanya
bertentangan dengan hukum atau melanggar hukum
(ilegal). Napza (Narkotika, Psikotropika, Zat Adiktif Lainnya) adalah
istilah kedokteran untuk sekelompok zat jika masuk kedalam tubuh menyebabkan
ketergantungan dan berpengaruh terhadap otak.
2.6.2 Hamil di luar nikah
Masalah hamil di luar nikah semakin parah dan sangat miris serta
menyedihkan, remaja perempuan kita akhir-akhir ini. Beberapa fakta tentang
fenomena hamil di luar nikah saat ini di negeri kita memang sangat menggalaukan
hati kita. Walau sebenarnya, kasus-kasus hamil di luar nikah yang merupakan
kasus kecelakaan dalam pergaulan yang bebas itu, sesungguhnya sejak dahulu kala
dengan jumlah yang tidak terlalu gila seperti sekarang ini. Namun, bila kita
melihat dari angka-angka kasus dari perjalanan sejarah anak manusia, kasus
hamil di luar nikah itu sekarang ini memang sangat parah. MBA (Married by
Accident) dianggap hal biasa. Padahal, dahulu, seseorang yang terlanjur hamil
di luar nikah itu dalam tatanan masyarakat kita dinyatakan sebagai tindakan
yang sangat memalukan, keluarga, dan bahkan masyarakat dalam sebuah komunitas.
Pelaku hamil di luar nikah dianggap sebagai pembawa sial. Bahkan ada yang
diusir dari keluarga dan juga dari kampong. Karena, hamil di luar nikah, hamil
karena kecelakaan, hamil karena perbuatan zina, atau MBA adalah sebuah berita
buruk, memalukan dan hina bagi sebuah keluarga dan kelompok masyarakat di
sebuah daerah, juga suatu bangsa seperti Indonesia. Artinya, kala orang tua
atau sebuah keluarga mengetahui anak perempuannya hamil sebelum menikah, orang
tua dan keluarga bahkan masyarakat akan merasa dipermalukan oleh kasus itu.
Maka, mendapat kabar bahwa anak perempuan sesorang mengalami hamil di luar
nikah itu adalah sebuah berita yang sangat mencoreng nama baik keluarga dan
masyarakat. Apalagi dalam keluarga masyarakat muslim, ini justru sangat tidak
bisa diterima. Sehingga kasus-kasus hamil di luar nikah, sulit didata dan
selalu terselubung serta banyak berujung dengan tindakan aborsi yang
bertentangan dengan nilai-nilai universal HAM dan nilai-nilai agama itu.
2.6.3 Clubbing
“Mungkin sejenak dapat aku lupakan dengan minuman keras yang saat ini ku
genggam atau menggoreskan kaca di lenganku. Apapun kan ku lakukan, ku ingin
lupakan. Namun bila ku mulai sadar dari sisa mabuk semalam, perihnya luka ini
semakin dalam ku rasakan. Disaat ku telah mengerti, betapa indah dicintai……..”
(Diary Depresiku – Last Child)
Clubbing dipersepsikan sebagai suatu hal yang negatif karena merupakan
kegiatan di tempat gelap dengan warna warni cahaya lampu, asap rokok yang
memenuhi ruangan, suasana hingar bingar musik dari DJ dan meja bar dengan
berbagai macam minuman beralkohol bahkan narkoba. Pelaku clubbing yang biasa
disebut clubbers diberi kebebasan untuk berekspresi, seperti
bernyanyi, menggoyangkan kepala, berteriak-teriak dan menari di lantai dansa (dance
floor) diiringi musik dengan tempo cepat.
2.6.4 Perkataan Buruk dan Jorok
Terdapat hubungan antara bahasa pertama yang diperoleh oleh seorang anak,
dengan perkembangan anak nantinya. Seorang anak yang memperoleh bahasa pertama
berupa kata-kata kotor, maka anak tersebut akan menirunya dan mengucapkannya
hingga ia dewasa. Selanjutnya, perilakunya akan terpengaruh pula. Hal ini
sesuai dengan penelitian di Jepang, bahwa air yang diucapkan kata-kata buruk,
kristal-kristalnya akan berbentuk buruk pula. Berbeda dengan air yang diucapkan
kata-kata baik, kristal-kristalnya akan berbentuk sangat bagus. Manusia sendiri
terdiri 90% dari tubuhnya terdiri dari air. Karenanya, bukan tidak mungkin
kata-kata yang biasa didengar oleh anak akan membentuk pribadi anak sesuai
dengan kata-kata yang mereka dengar.
2.6.5 Merokok
Meski semua orang tahu
akan bahaya yang ditimbulkan akibat
merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya
merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat.
merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya
merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat.
Mungkin juga semula hanya mencoba-coba kemudian menjadi
ketagihan akibat adanya nikotin di dalam rokok. Hampir disetiap tempat berkumpul remaja atau anak-anak sekolah usia sekolah menengah kita menemukan para remaja merokok.
ketagihan akibat adanya nikotin di dalam rokok. Hampir disetiap tempat berkumpul remaja atau anak-anak sekolah usia sekolah menengah kita menemukan para remaja merokok.
2.6.6 Membolos Sekolah
Membolos sekolah mungkin ini merupakan salahsatu budaya dalam pendidikan di
bumi pertiwi ini. Sering kali kita mendapati anak-anak sekolah yang masih
berseragam berkeliaran di luar sekolah pada jam sekolah. Kalau jaman dahulu mungkin
hanya sebatas anak laki-laki saja yang melakukan atau melestarikan kebudayaan
ini namun akhir-akhir ini tidak jarang kita temukan anak sekolah perempuan yang
membolos di jam sekolah, sendiri dengan sesama teman perempuan ataupun dengan
teman laki-laki. Lalu bagaimana dengan peraturan sekolahnya? Apakah sekolah
tidak melakukan tindakan dengan kejadian semacam ini? Mungkin ada beberapa
sekolah yang menganggap hal ini adalah hal yang biasa dengan tidak memberikan
sanksi terhadap anak yang membolos. Namun sesungguhnya di setiap sekolah pasti
ada peraturan yang mengatur tentang sanksi bagi anak yang membolos. Tetapi
peraturan ini terkadang tidak ditegakkan entah karena gurunya tidak tahu atau
memang karena guru tersebut sudah bosan menghukum anak yang bersangkutan.
2.7
Solusi terhadap
Masalah yang Ditimbulkan dari Pengaruh Pergaulan Teman terhadap Perilaku Siswa
2.7.1
Penyalahgunaan Narkoba atau Napza
Solusi terhadap masalah penyalahgunaan narkoba atau napza, antara
lain:
a. Memahami
sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan
kesabaran.
b. Memberikan
perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan
sosial.
c. Memberikan
kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap,
perasaan dan pendapat remaja.
d. Menciptakan
suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi
remaja.
e. Memberikan
penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.
f. Memberikan
teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.
g. Tidak
mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak
melaksanakannya (panutan dan keteladanan).
2.7.2
Hamil di luar nikah
Adapun
solusi agar tidak terjadi hamil di luar nikah antara lain:
a. Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam
hal apapun
b. Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang
c. Membiarkan anak bergaul dengan teman sebaya yang hanya beda umur atau 3 tahun, baik lebih tua darinnya
d. Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti televisi, internet, radio, dan handphone
e. Perlunya bimbingan kepribadian sekolah, karena di siswa lebih banyak menghabiskan waktunnya di lingkungan sekolah.
f. Perlunya pembelajaran agama, yang dilakukan sejak dini.
g. Diajarkan pendidikan seks berdasarkan nilai-nilai agama.
h. Sebagai orang tua harus jadi tempat “curhat” yang nyaman untuk si anak.
b. Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang
c. Membiarkan anak bergaul dengan teman sebaya yang hanya beda umur atau 3 tahun, baik lebih tua darinnya
d. Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti televisi, internet, radio, dan handphone
e. Perlunya bimbingan kepribadian sekolah, karena di siswa lebih banyak menghabiskan waktunnya di lingkungan sekolah.
f. Perlunya pembelajaran agama, yang dilakukan sejak dini.
g. Diajarkan pendidikan seks berdasarkan nilai-nilai agama.
h. Sebagai orang tua harus jadi tempat “curhat” yang nyaman untuk si anak.
2.7.3 Clubbing (dunia
malam)
Berikut adalah upaya dan tindakan mengatasi pengaruh negatif dunia
malam
1. Peran
orang tua
Pertama,
harus ada kemauan dari orang tua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga
tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman. Kondisi yang tidak
harmonis di keluarga akan menyebabkan anak mencari tempat hiburan malam untuk
menghilangkan kegalauan hatinya. Orangtua sebaiknya memiliki kesantunan perkataan
dan perbuatan. Santun dalam perkataan adalah senantiasa mengucapkan hal-hal
yang baik saja, lembut, merendahkan suaranya. Sedangkan santun dalam perbuatan
seperti suka menolong orang lain dan memberikan contoh yang baik. Kedua,
perhatian serta tanggung jawab sebagai orangtua mutlak diperlukan. Orangtua
harus tau apa saja yang dilakukan anaknya di luar dan bagaimana cara mengatasi
persoalan anaknya yang notabene sudah bukan anak-anak lagi.
2. Peran
masyarakat
Lingkungan
masyarakat juga mempengaruhi perkembangan sosial remaja. Untuk itu lingkungan
masyarakat yang kondusif sangat dibutuhkan untuk mengendalikan maraknya
kriminalitas dan hal-hal menyimpang yang dilakukan remaja. Keberadaan karang
taruna dirasa tepat untuk mengkoordinir remaja dalam berorganisasi dan
melakukan hal yang positif.
2.7.4 Perkataan Buruk dan Jorok
1. Perhatikan saat kapan dan apa yang terjadi setelah anak berkata
kasar atau jorok. Ini agar kita bisa mengerti alasan si anak. Dengan mengetahui
itu, kita akan lebih mudah mengatasinya.
2. Saat anak mengucapkan kata kasar dan jorok, kita bisa bertanya
kepada anak, misalnya darimana ia mendapatkan kata tersebut, kata tersebut
artinya apa, juga misalnya akibat apa jika kata tersebut diucapkan kepada orang
lain, dan sebagainya.
3. Jika anak tidak mengetahui arti dari kata kasar atau jorok
tadi, kita dapat memberi tahu artinya secara singkat dan jelas, juga
mengenalkan akibatnya jika ia mengucapkan kata-kata itu kepada orang lain. Anak
usia 4 tahun pada umumnya senang mempelajari kata-kata baru, apalagi di usia
ini kemampuan berbahasa dan menyerap informasi anak-anak sedang berkembang
dengan pesat.
4. Bila ia mengucapkan kata kasar atau jorok karena marah, Anda
bisa mengajarkannya dengan memberi tahu kata-kata apa yang boleh
diucapkannya ketika ia sedang marah. Anda juga bisa memberi tahu kepada si
kecil bahwa kata-kata itu tidak boleh digunakan di dalam keluarga.
5. Ketimbang Anda memberikan hukuman atau peringatan keras kepada
anak saat mengucapkan kata kasar atau jorok, lebih baik berikan
perhatian saat ia mengucapkan kata-kata yang sopan sehingga ia lebih
sering dan senang mengucapkan kata-kata yang baik.
6. Jika kata-kata kasar atau jorok yang diucapkan oleh anak
berasal dari sekolah, memindahkannya ke sekolah yang lain tak akan menyelesaikan
masalah. Anda tak mungkin menemukan sekolah dan teman-teman yang steril bagi si
kecil karena sekolah dan teman merupakan lingkungan sosialisasi anak, di
sana pula hal-hal yang dinilai baik dan buruk sangat sulit dipisahkan.
2.7.5
Merokok
1. Menasehati dan menuntun kembali remaja-remaja tersebut agar
tidak merokok.
2. Orang tua semakin mengawasi pergaulan anaknya.
3. Membawanya ke tempat rehabilitasi perokok.
4. Stasiun TV mengurangi iklan yang berbau rokok.
5. Membatasi pergaulan remaja yang tak terarah.
6. Memberikan sanksi yang berat terhadap remaja yang ketahuan
merokok.
2.7.6
Membolos Sekolah
1.
Tetap menekankan pentingnya sekolah
Terapi terbaik untuk anak yang mengalami fobia sekolah adalah dengan
mengharuskannya tetap bersekolah setiap hari. Karena, rasa takut harus diatasi
dengan cara menghadapinya secara langsung. Keharusan untuk memaksa anak untuk
masuk sekolah, akan menjadi obat mujarab. Lambat laun keluhannya akan makin
berkurang. Makin sering anak diizinkan bolos, akan makin sulit mengembalikannya
lagi ke sekolah. Selain itu, dengan mengizinkannya absen sekolah, anak akan
makin ketinggalan pelajaran, serta makin sulit untuk menyesuaikan diri dengan
teman-temannya.
2. Berusahalah untuk tegas dan konsisten menghadapi keluhannya
Baik karena pusing mendengar suara anak maupun karena amat
mengkhawatirkan kesehatannya, orang tua seringkali meluluskan permintaan
anaknya. Tindakan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Jika kita bangun pagi anak
segar bugar, namun pada saat mau berangkat sekolah tiba-tiba mogok, maka
sebaiknya orangtua tidak melayani sikap negosiasi anak dan langsung
mengantarnya ke sekolah. Hindari juga sikap menjanjikan hadiah jika anak mau
berangkat sekolah. Karena hal ini akan menjadi pola kebiasaan yang tidak baik.
Si anak tidak akan mempunyai kesadaran sendiri kenapa dirinya harus sekolah dan
terbiasa memanipulasi orangtua.
Begitu pun jika sudah terlambat ke sekolah. Orang tua harus tegas
dan bekerjasama dengan guru meskipun si anak “mengamuk”. Tentunya diikuti
dengan sikap yang tenang dan kesabaran untuk tahu mengapa si anak tak ingin
sekolah.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi hubungan
antara siswa dan teman sebaya sangat lah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan jati
diri anak tersebut, maka dari itu jangan lah membiarkan seorang anak yang salah
tetap sakah, akantetapi harus nya kita membuat pemahaman yang benar terhadap
anak tersebut. Karena itu akan menentukan masadepannya.
3.2 Saran
Penulisan makalah ini sangatlah banyak keterbatasan,
banyak faktor yang membuat kurang maksimalnya makalah yang penulis buat. Oleh
karena itu penulis sangat menyarankan bahwa pembaca lebih banyak membaca dan
membandingan makalah ini dengan sumber-summber yang lain.
Comments