Taqwa

Click here!

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Perintah untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa relevan dengan waktu dan tempat, kapanpun dan dimanapun. Mengingat, ragam fitnah yang mengancam hati seorang hamba,  ingkungan yang tidak kondusif ataupun lantaran hati manusia yang rentan mengalami perubahan dansebab-sebab lainnya yang berpotensimenimbulkan pengaruh negatif pada keimanan dan ketakwaan. Urgensi berwasiat untuk takwa dapat disaksikan dari kenyataan bahwa Allah menjadikannya wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah k berfirman: (An-Nisaa 4:131)
....
ولقد وصينا الد ين او تواالكتب من قبلكم وايا كم ان اتقو االله   وا ن تكفرو ا فان لله ما فى السموت وما فى الارض   و كا ن الله غنيا حميد ا
 “…dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [An- Nisaa 4:131] 

Ketakwaan juga merupakan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Pada haji wada’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  Bertakwalah kepada Allah, kerjakan sholat lima waktu, berpuasalah di bulan (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, taati para penguasa, niscaya kalian masuk syurga Allah. [HR. at-Tirmidzi]. Taqwa sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim. Namun masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jumat para khatib menyerukan taqwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang kali. Namun yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan pas.

Rumusan Masalah
1.                Apa makna dari taqwa?
2.                Bagaimana peranan taqwa ? 
3.                Bagaimana aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari ? 
4.                Apa maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa ?
Tujuan
1.         Untuk mengetahui makna dari taqwa. 
2.         Untuk mengetahui peranan taqwa. 
3.         Untuk mengetahui aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari. 
4.         Untuk mengetahui  maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa.






BAB II
PEMBAHASAN
Makna Taqwa
   Kata taqwa banyak disebut dalam ayat Al-Quran. Darisekian banyak ayat itu, sering diartikan dengan takut kepada Allah, tetapi bukan takut dalam artian biasa. Orang-orang yang takut kepada Allah (al-muttaqun) sering diidentikkan dengan mereka yang selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, ada yang mengartikan al-muttaqun sebagai orang-orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga dirinya dari kejahatan.
   Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni memelihara diri dari ketentuan Allah dan melindungi diri dari dosa/larangan Allah. Para ulama berbeda-beda dalam menjelaskan makna taqwa. Imam ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan “Taqwa itu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa dan meninggalkan apa yang dilarang Allah swt”. Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “Mentaati perintah dan larangan Allah”. Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah. Hal itusebagaimana didefinisikan oleh imam al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya”. Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah atau mendengarkan dengan keduan telinganya apa yang dimurkai  Allah atau tempat yang dikutuk oleh Allah berarti tidakmenjaga dirinya dari dosa.  Jadi orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarang-Nyadia bukanlah termasuk orang-orang yang bertakwa. Orang yang menceburkan diri kedalam maksiat sehingga dia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
   Dari beberapa makna taqwa yang diungkapkan di atas, dapat dipahami bahwa taqwa itu ialah tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk dapat menjadi orang seperti itu tentu tidak mudah, melainkan harus didasari oleh keimanan yang kuat terhadapAllah swt. Oleh karena itu, di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 2-3 bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa itu diawali dengan “yu’minuna bilghaibi” beriman kepada Dzat Allah Yang Al-Ghaib. Karena tanpa didasari keimanan kepada Dzat Allah Yang Al-Ghaib sulit badi seseorang untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Peranan Taqwa
       Kedudukan taqwa sangat penting sekali bagi manusia, karena orang-orang bertaqwa akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah S.W.T selain itu, taqwa juga peranan nya sangat penting bagi manusia, karena orang-orang yang bertaqwa akan mendapat berbagai macam anugerah dari Allah S.W.T, diantaranya:
Orang-orang yang bertaqwa akan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram, yang hak dan yang batil, sebagai firman Allah S.W.T :
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya pembeda” (petunjuk membedakan baik dan buruk). Orang yang bertaqwa akan diberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan, sebagai mana Firman Allah S.W.T :
فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِوَمَنْيَتَّقِاللَّهَيَجْعَلْلَهُمَخْرَجًا  
 وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍقَدْرًا
”Barang siapa bertaqwa kepada Allah.niscaya Allah memberikan kepada mereka jalan keluar (Atas segala persoalan), dan di beri rizki dari jalan yang tidak terduga “  (Q.S Ath-Thalaq  65 : 2-3)
Orang yang betaqwa akan di berikan kemudahan dalam segala urusan, sebagai mana firman Allah: “ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusan “ (Q.S Ath-Thalaq  65 : 4)
وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْلَهُمِنْأَمْرِهِيُسْرًا
Orang yang bertaqwa akan di tutupi kesalahan-kesalahannya dan akan di lipat gandakan pahalanya,sebagimana firman Allah :
ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ وَمَنْ يَتَّقِ الله يُكَفِّرْعَنْهُسَيِّئَاتِهِوَيُعْظِمْلَهُأَجْرا ً  
“ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahalanya “ (Q.S Ath-thalaq 65 : 5)
Orang yang bertaqwa akan diberikan keberkahan dari langit dan dari bumi, sebagaimana firman Allah :
وَلَوْأَنَّأَهْلَالْقُرَىٰٓءَامَنُوا۟وَاتَّقَوْا۟لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمبَرَكٰتٍمِّنَالسَّمَآءِوَالْأَرْضِوَلٰكِنكَذَّبُوا۟فَأَخَذْنٰهُمبِمَاكَانُوا
يَكْسِبُون  
“Jika seandainya penduduk suatu negeri Iman dan taqwa, pastilah Kami akan bukakan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi” (Q.S Al-A’raf 7 : 96)
Dan yang lebih penting lagi untuk di ketahui bahwa orang-orang yang bertaqwa akan dimasukan oleh Allah dalam surga, sesuai dengan firman-Nya :
و سا رعو اا لى مغفر ة من ربكم و جمة عر ضها اسمو ت و الارض   اعد ت للمتقين
“ Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhan mu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang di sediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (Q.S Ali-imran 3 : 133)

Aktualisasi Taqwa dalam Kehidupan Sehari-hari
       Untuk mengetahui seseorang itu bertaqwa atau tidak, hanya bisa dilihat dari bagaimana perilaku dan amal saleh orang tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, di dalam Al-Quran banyak ayat ayat yang menjekaskan tentang ciri ciri atau karakteristik orang yang bertaqwa, diantaranya sebagai berikut :
Di dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 1-5, dijelaskan bahwa Al Kitab itu tidak ada keragu-raguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang mendirika shalat, orang-orang yang menafkahkan sebagian rezekinya, yang beriman kepada apa-apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang sebelum kamu, dan orang-orang yang yakin kepada hari akhir.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 177, dijelaskan pula bahwa :
ليس البر ان تو لوا وجو هكم قبل المشرق و المغر ب ولكن البر من امن با لله و اليوم الا خر و الملئكة والكتب و النبيين و ءا تى الما ل على حبه دوى القربى واليتمى والمسكين زا بن السبيل و السا ئلين و فى الرقا ب و اقا م الصلو ة ز ءا تى الز كو ة والمو فو ن بعهد هم ادا عهدوا   والصبرين فى البا ساء والضراء و حين البا س   اولئك الدين صدقوا   والئك هم المتقو ن
 ”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, beriman kepada malaikat Allah, beriman kepada kitab Allah, beriman kepada para nabi, memberikan harta yang dicintai kepada kerabat dekat, anak-anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta dan memerdekakan budak, mendirikan shalat, menunaikna zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, orang-orang yang sabar baik dalam kesulitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
Selain itu, di dalam Al-Imran ayat 133-135 juga dijelaskan pula :
وسا رعو اا لى مغفرة من ربكم و جنة عر ضها السمو ت و الا ؤض   اعدت للمتقين   الدين ينفقو ن فى السر اء و الضر ا ء والضراء والكا ظمين الغيظ والعا فين عن الناس  والله يحب المحسنين   والد ين ادا فعلو ا فا حشة او ظلمو اانفسكم دكرو االله قا ستغفروا لد نو بهم   ومن يغفر الد نو ب الا لله  ولم يصر وا على ما فعلوا و هم يعلمون 
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhannya dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu : orang-orang  menginfaqan rizkinya baik dalam kemudahan maupun kesusahan, yang suka memaafkan (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang apabila berbuat kekejian atau zalim kepada diri sendiri, maka ia segera ingat kepada Allah dan beristigfar kepada Allah atas dosa-dosanya.
Dari ketiga ayat Al-Quran diatas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri orang bertaqwa itu meliputi hal-halsebagai berikut :
Pertama ,beriman kepada Dzatullah yang al-Ghaib. Beriman kepada Allah bukan hanya percaya kepada ada-Nya Allah,melainkan harus atas dasar keyakinan setelah benar-benar mengenal Jati Diri Allah dengan disertai pembuktian.
Kalimat yu’minuna yang terdapat pada ayat Al-Quran diatas adalah fi’il mudhari’ (berlaku terus menerus) ,artinya selalu mengimani. Sedangkan kalimat al-ghaib adalah isim mufrad, artinya satu-satunya yang gaib ,dan menggunakan “al” yang berarti isim ma’rifat (khusus, spesifik). Dengan demikian ,kalimat al-Ghaib berarti satu-satunya al-Ghaib, yakni Diri-Nya Ilahi (Dzatullah).
Kedua,, mendirikan sholat. Sholat menurut bahasa berarti “do’a” atau “rahmat”. Pengertian ini diambil berdasarkan firman Allah :
خد من اموا لهم صد قة تطهرو هم و تز كيهم بها و صلى عليهم   ان صلىو تك سكن لهم   والله سميع عليم 
“Dan berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (Q.S 9:103).
 Sedangkan menurut istilah syara’, sholat berarti perbuatan khusus seorang muslim yang berisi bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Sholat merupakan salahsatu ibadah yang diwajibkan Allah SWT kepada setiap muslim lima kali dalam sehari semalam dalam waktu-waktu yang telahditentukan.
Sholat merupakan ibadah utama dalam islam dan sebagai tiang agama. Mendirikan sholat bukan hanya sekedar melaksanakansholat, tetapi melaksanakan sholat dengan benar dan khusyu’, yakni memenuhi kehendak dari perintah Tuhan yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat : 14 ” wa’aqimishshalatalidzikri” (dirikanlah sholat untuk mengingatKu). Sholat khusyu’ yaitu sholat yang dilaksanakan dengan cara yang menghadirkan hati untuk selalu mengingat Allah ketikasholat.
Orang yang dapat melaksanakan sholat dengan khusyu’ akan diberikan kebahagiaan oleh Allah, sebagaimana telah dijelaskan dalam firmannya
قد افلح المؤ منو ن   الد ين هم في صلو تهم خا شعو ن 
 “sungguh bahagialah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu’ di dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
فو يل للمصلين   الدين هم عن صلا تهم سا هو ن 
Apabila shalatnya tidak khusyu’, maka shalatnya sahun(lalai),  dan apabila shalatnya lalai diancam dengan “fawailun” (kecelakaan), sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya: “celakalah orang-orang yang shalat, mereka yang lalai (sahun) di dalam shalatnya” (QS. Al-Ma’un: 4-5).
Fungsi shalat bagi manusia merupakan suatu media komunikasi antara hamba dengan KhalikNya , dengan jalan menghadapkan diri dan hati kepada-Nya. Manakala shalat itu dilakukan dengan secara khusyu’ dan kontinyu akan menjadi alat pendidikan rohani yang efektif, memperbaharui dan memelihara jiwa serta memupuk pertumbuhan kesadaran. Semakin banyak shalat itu dilakukan dengan penuh kesadaran,  sebanyak itu pula rohani dan jasmani manusia dilatih berhadapan dengan Dzat Yang MahaSuci, dan efeknya akan memancarkan akhlak yang mulia, sikap hidup yang dinamis yang penuh dengan amal shaleh, dan dapat terhindar dari perbuatan dosa dan kejahatan. Dengan kata lain, bahwa manusia dengan melakukan shalat yang lima waktu dengan penuh kesadaran dan rasa khusyu’ itu akan berdampak positif terhadap perilaku manusia yang dapat mengakibatkan manusia terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Dan hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan Allah dalam salahsatu firman-Nya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُيَعْلَمُمَاتَصْنَعُونَ   
“Dan tegakanlah shalat, karena shalat itu dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar” (QS.Al-Ankabut 29:45)
       Ditinjau dari segi kedisiplinan, shalat juga merupakan pendidikan positif yang dapat menjadikan manusia dan masyarakat menjadi hidup teratur. Dengan melaksanakan shalat sebanyak lima kali sehari semalam, seorang muslim tentu akan menjadi seorang yang selalu memperhatikan perjalanan masa dan selalu sadar tentang peredaran waktu. Kesadaran terhadap waktu akan membawa hidup yang teratur dan penuh manfaat.
       Selain itu Al-Quran juga menerangkan bahwa pengaruh shalat itu dapat mendidik jiwa manusia dan menyelamatkannya dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar serta membersihkannya daripada naluri-naluri kejahatan yang merusakan prikehidupan manusia. Allah menjelaskan :
اتل ما او حي اليك من الكتب و اقم الصلو ة   ان الصلو ة تنهى عن الفحشا ء والمنكر  و لدكر الله اكبر   والله يعلم ما تصنعو ن
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan keji dan munkar). Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut 29:45)
Adapun kebalikan daripada itu,  Alqur’an menyatakan bahwa meninggalkan shalat itu sebagai tanda tenggelamnya seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan sebagai jalan kejatuhannya ke dalam jurang  kecelakaan dan kesesatan. Dan merupakan sebab daripada sebab-sebab kekalnya kelak di dalam api neraka. Allah berfirman:
فخلف من بعد هم خلف اضا عواالصلو ة و اتبعو ا ا لشهو ت فسو ف يلقو ن غيا
“maka datanglah sesudah mereka itu suatu kaum yang menyia-nyiakan shalat serta mempertaruhkan hawa nafsu mereka. Mereka itu kelak akan dilemparkan ke dalam api neraka” (QS. Maryam19:59).
Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan pula:
كل نفس بما كسبت رهينة   الا اصحب اليمين   فى جنت يتساءلون  عن المجرمين   ما سلككم فى سقر  قالوالم نك من المصلين 
 “Tiap-tiap manusia itu adalah tebusan daripada amalan yang diperbuatnya, kecuali orang-orang golongan kanan. Di dalam surge mereka itu bertanya-tanya tentang nasib orang yang berdosa. Apakah sebab musabab yang membawa kamu ke dalam neraka ini? Berkatalah mereka: Karena kami dahulunya tidak mengerjakan shalat” (QS. Al-Muddatstsir 74: 38-43).
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Ditinjau dari segi disiplin, shalat merupakan pendidikan positif yang dapaف menjadikan manusia dan masyarakatnya hidup teratur. Dengan kewajiban shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam, seorang muslim tentu merupakan seorang yang selalu memperhatikan perjalanan masa dan selalu sadar tentang peredaran waktu. Kesadaran tentang waktu akan membawa hidup yang teratur dan hidup yang penuh manfaat.
Selain itu, shalat jugadapat menjadi sarana sebagai pembinaan umat, khususnya dalam shalat /berjama’ah. Umat Islam dalam melaksanakan shalat sangat dianjurkan melakukannya dengan berjama’ah. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh kali lipat dari pada shalat sendirian”.
Bahkan shalat berjamaah itu diwajibkan melaksanakannya sekali dalam satu minggu yaitu pada waktu shalat jum’at. Melalui shalat berjamaah ini, Islam mendidik pemeluk-pemeluknya bergaul, bermasyarakat, mempertebal ikatan ukhuwah Islamiyah. Untuk melaksanakan shalat berjama’ah perlu tempat, karena itu mesjidd ibangun, dan di masjidlah shalat berjamaah dilakukan. Sistem berjamaah di masjid mengandung banyak nilai yang penting. Ia mendidik manusia menumbuhkan solidaritas sosial yang kuatdan ajaran persamaan antar manusia. Anggota-anggotanya jamaah duduk dalam satu barisan. Yang miskin berdampingan dengan yang diistimewakan. Semuanya melakukan gerakan-gerakan yang serupa dan seirama. Mereka sujud dan ruku’ dengan disiplin atau suatu komando “Allahu Akbar dari imam. Shalat ditutup dengan salam, artinya saling menyatakan selamat, sejahtera dan damai. Sesudah itu dimanifestasikan dengan saling berjabatan tangan, untuk ikatan perdamaian dan persaudaraan. Sama-sama menyatakan diri sebagai hamba Allah yang bersaudara dan tak ada permusuhan, satu tujuan bersama yaitu mengabdi kepada Allah.
Ketiga, Menginfaqkan sebagian rizki yang di anugrahkan Allah ( Berupa zakat dan Shadaqah). Allah S.W.T telah banyak menganugrahkan rizki kepada manusia,karena nya itu manusia di haruskan untuk menyisihkan sebagian rizki nya,baik berupa zakat,shadaqah,dan lain-lain. Zakat dan shadaqah dapat di katakan sebagai usaha mensucikan diri dari kemungkinan pemiliknya cinta berlebih-lebihan kepada harta dan dari kemungkinan memiliki harta kotor yang di sebabkan bercampurnya harta yang bersih dengan harta yang menjadi hak orang lain dengan jalan memberikan sebagian hartanya kepada orang yang berhak menerimanya. Zakat dan shadaqah lebih di arahkan pada penyantunan kaum duafa yang secara langsung di berikan dalam bentuk bahan konsumtif dengan cara di arahkan pada kegiatan produktif guna peningkatan kemampuan golongan ekonomi lemah sehingga mereka dapat keluar dari kemiskinan.
Keempat, Beriman kepada apa-apa yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan nabi-nabi sebelumnya,yakni (Al-kitab, Al-hikmah dan An-Nubuwwah). Al-kitab, Al-hikmah, An-Nubuwwah  merupakan satu paket yangg di turunkan kepada para nabi yang harus kita imani. Kitab Allah adalah wahyu Allah,khalam nya, dan cahaya dirinya. Cahaya dengan yang punya cahaya bagaikan sifat dan mausuf,bagaikan kertas dan putihnya yangs selalu menyatu menjadi satu. Kitab yang di maksud adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yakni “Kitabun maknun”, kitab yang terpelihara (Di lauhmahfudz), kitab yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang di sucikan hatinya,sebagaimana di jelaskan dalam Firman Allah: “La yamassuhu illa Al-muthaharun” (Q.S Al-waqiah : 79).
لايَمَسُّهُإِلاالْمُطَهَّرُونَ

Kelima, Meyakini adanya hari akhir. Hari akhir adalah .kembalinya hamba kepada asalnya, yakni Allah S.W.T, seperti yang dijelaskan Allah dalam Firman-Nya Surat Al-Qamar ayat 5 yakni: fi maq’adi shidqin ‘inda malikin muqtadirin” ( Di tempat yang benar di sisi Tuhan (Raja) yang maha berkuasa). Pulang kembalinke tempat yang benar, kemudian merasakan betapa bahagianya, betapa gembiranya selama-lamanya di sisi Tuhan (Raja) yang berkuasa. Untuk dapat kembali kepada asalnya dengan benar,tentu harus mengenali tempat kembalinya dengan benar yang tiada lain adalah diri-Nya Illahi dan berusaha mengingat-ingat dan menghayati-Nya dalam rasa hati. Dan orang yang seperti inilah yang di golongkan kepada orang yang meyakini hari akhir.
Keenam,  Mereka yang menafkahkan rizkinya di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Dengan kata lain, jika mereka memiliki uang 1000$ di infaqannya paling tidak 1$, dan jika hanya memiliki 1000 sen mereka infaqkan 1 sen. Menafkahkan rizki di jalan Allah S.W.T adalah jalan hidup mereka. Bagi orang-orang yang suuka bersedaqah, Allah S.W.T ( Atas kehendak-Nya) akan menjauhkan mereka dari kesulitan (bala) kehidupan lantaran kebjikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu,seseorang yang suka menolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya.
Ketujuh, Mereka yang dapat mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain akan mendapatkan pahala yang besar di hari pembalasan. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Allah S.W.T akan memberikan pengumuman di hari pembalasan, barang siapa yang memiliki hak atas Allah S.W.T agar berdiri sekarang. Pada saat itu berdirilah orang-orang yang memaafkan orang-orang yang kejam yang menganiaya mereka. Nabi Muhammad SAW juga bersabda : “ Barang siapa berharap mendapatkan istana yang megah di surga dan berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya mereka mengerjakan hal berikut ini :
   a.   Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka.
   b.  Memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi hadiah kepada mereka.
  c. Jangan menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dengan sengaja memutuskan hubungan dengan mereka
Allah S.W.T memberi petunjuk dengan sangat indah bagaimana hendaknya kita berprilaku teerhadap musuh-musuh kita yang paling jahat dalam Surat Fushshilat ayat 34 : “ tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat”. Jika kamu membalas perbuatan jahat dengan kebaikan,maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman karib dan sejawatmu.
Kedelapan, apabila (orang-orang beriman) terlanjur berbuat jahat atau aniaya ,mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Selaku manusia biasa, pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan. Untuk itu, apabila kita terlanjur melakukannya, maka hendaklah segera ingat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya (bertaubat).
Taubat merupakan perjalanan kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat-sifat terpuji. Orang yang bertaubat dapat dikategorikan kepada tiga bagian : (1) mereka yang kembali ke jalan yang benar karena takut kepada adzab dan siksa Allah . Golongan ini disebut “taib” (orang yang bertaubat), (2) mereka yang kembali ke jalan yang benar karena malu dipandang Allah. Golongan ini disebut “munib” (orang yang kembali), (3) mereka yang kembali ke jalan yang benar karena mengagungkan kebesaran Allah. Golongan ini disebut “awwab” (orang yang senantiasa mawas diri dan kembali).
Kesembilan, beriman kepada Malaikat Allah . Iman kepada malaikat Allah bukan hanya sekedar percaya kepada malaikat, tetapi bagaimana kita bisa mengikuti jejak para malaikat yang dengan rela sujud kepada wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi, yakni para Nabi dan Rosul serta para pengganti-penggantinya yang akan terus ada sampai akhir kiamat.
Kesepuluh, beriman kepada para Nabi dan Rosul Allah. Beriman kepada Rosul adalah berarti mengimani Rosul yang  diutus Allah yang selalu berada di tengah-tengah umatnya dan berusaha untuk mengikuti ajarannya dan meneladaninya. Meneledani Rosulullah berarti menjadikan Rasulullah sebagi figur dalam kehidupan bagi pengikut-pengikutnya , baik ucapannya, perbuatannya, ilmunya ,amalnya, lahirnya dan batinnya.
Kesebelas, Ash-shabrin (Orang-orang yang sabar). Salah satu sifat yang harus di miliki oleh orang yang bertaqwa ialah sabar. Sabar ialah meninggalkan segala macam pekerjaan yang di gerakan oleh hawa napsu,dan tetap pada pendirian agama dengan semata-mata karena menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat. Sabar itu merupakan perjuangan dalam menhadapi hawa napsu untuk pulang kembali kepada Allah S.W.T.
       Dalam pandangan sufi, sabar di bagi menjadi tiga keadaan. Pertama, sabar sebelum taat, ialah niat yang ikhlas, tujuan yang benar, merasa kewajiban atas keyakinan agama dalam menerima peraturan berupa perintah atau larangan. Kedua,sabar dalam melaksanakan ketaatan, yakin melaksanakan kewajiban sampai selesai, berkala atau terus menerus dengan dengan telah selelsainya pekerjaan, tidak iri hati atas kekuranan atau kelebihan orang lain, tidak ria untuk di kagumi hasil usahanya.
       Selain itu, sabar dilihat dari hukumnya terbagi tiga bagian juga, yakni: Pertama, sabar dalam menjauhkan diri dari segala yang haram, dan ini hukumnya wajib. Kedua, sabar dalam menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh, dan ini hukumnya sunah. Ketiga, sabar dalam membela kehormatan atau hak milik, dan itu hukumnya haram.
Keduabelas, ash-shadiqin. As-shadiqin jama dari shadiq artinya orang yang benar dan jujur. Shadiq adalah isim fa’il yang berasal dari kata shidq yang artinya lebih dekat dengan sebuah sikap pembenaran terhadap sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya yang berangkat dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam.
Para ulama memiliki pandangan yang berbeda tentang makna shidq ini, diantaranya :
-Shidq adalah menyempurnakan amal untuk Allah
-Shidq adalah kesesuaian dzahir (amal) dengan batin (iman), karena orang yang berdusta adalah mereka yang dzahirnya lebih baik dari batinnya.
-Shidq adalah ungkapan yang hak, kendatipun memiliki resiko yang membahayakan dirinya
-Shidq adalah perkataan yang hak pada orang yang ditakuti dan diharapkan.
Dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa seperti diatas , dapat kita pahami bahwa pada dasarnya takwa itu merupakan akttualisasi dari ajaran Islam , yang pada realisasinya berupa ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah dengan menjalankan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya dengan didasari oleh keimanan yang ada di dalam hatinya.

 Maksud Taqwa Sebenar-benarnya Taqwa
Yang dimaksud taqwa sebenar-benarnya taqwa itu menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya ialah :
1.Hendaklah taat kepada Allah dengan sepenuh hati dan tidak mendurhakainya
2.Hendaklah selalu bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah ,dan tidak mengkufurinya
3.Hendaklah selalu ingat kepada Allah dan tidak melupakannya
4.Hendaklah selalu berjihad di jalan Allah denga jihad yang sebenar-benarnya
5.Hendaklah berbuat adil, walaupun terhadap bapa dan anak-anak meraka.





BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Taqwa adalah tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk dapat menjadi orang seperti itu tentu tidak mudah, melainkan harus didasari oleh keimanan yang kuat terhadapAllah SWT.Kedudukan taqwa sangat penting sekali bagi manusia, karena orang-orang bertaqwa akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah S.W.T selain itu, taqwa juga peranan nya sangat penting bagi manusia, karena orang-orang yang bertaqwa akan mendapat berbagai macam anugerah dari Allah S.W.T. Untuk mengetahui seseorang itu bertaqwa atau tidak, hanya bisa dilihat dari bagaimana perilaku dan amal saleh orang tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.
3.2 Saran
Tulisan ini dimaksudkan sekedar  ikut memberikan sumbangan kecil dalam rangka menjelaskan bagaimana makna taqwa yang sebenarnya.
Akhirnya mengingat bahwa segala sesuatu tidak ada yang sempurna, maka jika para pembaca ada yang menjumpai kekeliruan pada penulisan ini, asupan pikiran dan saran dari para pembaca merupakan ilmu bagi penulis. Harapan kami semoga pembaca puas dengan adanya makalah ini.
Berdasarkan kesimpulan tersebut maka disarankan untuk lebih menjadi orang yang  bertaqwa kepada Allah SWT.

Comments

Postingan Populer

Teori belajar behavioristik, kognitif, humanistik, dan sibernetik.