Taqwa
Click here!
2. Bagaimana peranan taqwa ?
3. Bagaimana aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari ?
4. Apa maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa ?
2. Untuk mengetahui peranan taqwa.
3. Untuk mengetahui aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari.
4. Untuk mengetahui maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perintah untuk
bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa relevan dengan waktu dan tempat,
kapanpun dan dimanapun. Mengingat, ragam fitnah yang mengancam hati seorang
hamba, ingkungan yang tidak kondusif
ataupun lantaran hati manusia yang rentan mengalami perubahan dansebab-sebab
lainnya yang berpotensimenimbulkan pengaruh negatif pada keimanan dan
ketakwaan. Urgensi berwasiat untuk takwa dapat disaksikan dari kenyataan bahwa
Allah menjadikannya wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang.
Allah k berfirman: (An-Nisaa 4:131)
....
ولقد وصينا الد ين او تواالكتب من قبلكم وايا كم ان اتقو االله وا ن تكفرو ا فان لله ما فى السموت وما فى
الارض و كا ن الله غنيا حميد ا
“…dan
sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum
kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir
maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang dibumi hanyalah
kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. [An- Nisaa 4:131]
Ketakwaan juga
merupakan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Pada
haji wada’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bertakwalah kepada Allah, kerjakan sholat
lima waktu, berpuasalah di bulan (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, taati
para penguasa, niscaya kalian masuk syurga Allah. [HR. at-Tirmidzi]. Taqwa
sangat penting dan dibutuhkan dalam setiap kehidupan seorang muslim. Namun
masih banyak yang belum mengetahui hakekatnya. Setiap jumat para khatib
menyerukan taqwa dan para makmumpun mendengarnya berulang-ulang kali. Namun
yang mereka dengar terkadang tidak difahami dengan benar dan pas.
Rumusan Masalah
1.
Apa
makna dari taqwa?2. Bagaimana peranan taqwa ?
3. Bagaimana aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari ?
4. Apa maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa ?
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui makna dari taqwa. 2. Untuk mengetahui peranan taqwa.
3. Untuk mengetahui aktualisasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari.
4. Untuk mengetahui maksud dari perintah taqwa sebenar-benarnya taqwa.
BAB II
PEMBAHASAN
Makna Taqwa
Kata taqwa banyak disebut dalam ayat
Al-Quran. Darisekian banyak ayat itu, sering diartikan dengan takut kepada
Allah, tetapi bukan takut dalam artian biasa. Orang-orang yang takut kepada
Allah (al-muttaqun) sering diidentikkan dengan mereka yang selalu
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, ada yang
mengartikan al-muttaqun sebagai orang-orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga
dirinya dari kejahatan.
Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa
taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara, yakni
memelihara diri dari ketentuan Allah dan melindungi diri dari dosa/larangan
Allah. Para ulama berbeda-beda dalam menjelaskan makna taqwa. Imam ar-Raghib
al-Ashfahani mendefinisikan “Taqwa itu menjaga jiwa dari perbuatan yang
membuatnya berdosa dan meninggalkan apa yang dilarang Allah swt”. Imam
An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “Mentaati perintah dan larangan Allah”.
Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah. Hal itusebagaimana
didefinisikan oleh imam al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan
yang mengakibatkan siksa baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya”.
Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa berarti dia
bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang
diharamkan Allah atau mendengarkan dengan keduan telinganya apa yang
dimurkai Allah atau tempat yang dikutuk
oleh Allah berarti tidakmenjaga dirinya dari dosa. Jadi orang yang membangkang perintah Allah
serta melakukan apa yang dilarang-Nyadia bukanlah termasuk orang-orang yang
bertakwa. Orang yang menceburkan diri kedalam maksiat sehingga dia pantas
mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari
barisan orang-orang yang bertaqwa.
Dari beberapa makna taqwa yang diungkapkan di
atas, dapat dipahami bahwa taqwa itu ialah tunduk dan patuh kepada Allah dengan
melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Untuk dapat
menjadi orang seperti itu tentu tidak mudah, melainkan harus didasari oleh
keimanan yang kuat terhadapAllah swt. Oleh karena itu, di dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah ayat 2-3 bahwa ciri-ciri orang yang bertaqwa itu diawali dengan “yu’minuna bilghaibi” beriman kepada
Dzat Allah Yang Al-Ghaib. Karena tanpa didasari keimanan kepada Dzat Allah Yang
Al-Ghaib sulit badi seseorang untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya.
Peranan Taqwa
Kedudukan taqwa sangat penting sekali bagi manusia,
karena orang-orang bertaqwa akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah S.W.T
selain itu, taqwa juga peranan nya sangat penting bagi manusia, karena
orang-orang yang bertaqwa akan mendapat berbagai macam anugerah dari Allah
S.W.T, diantaranya:
Orang-orang yang bertaqwa akan dapat membedakan antara yang baik dan yang
buruk, yang halal dan yang haram, yang hak dan yang batil, sebagai firman Allah
S.W.T :
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang bertaqwa kepada Allah,
niscaya Allah akan menjadikan baginya pembeda” (petunjuk membedakan baik dan
buruk). Orang yang bertaqwa akan diberikan jalan keluar dari berbagai
kesulitan, sebagai mana Firman Allah S.W.T :
فَإِذَا
بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ
بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ
لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِوَمَنْيَتَّقِاللَّهَيَجْعَلْلَهُمَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى
اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لِكُلِّ شَيْءٍقَدْرًا
”Barang siapa bertaqwa kepada Allah.niscaya Allah memberikan kepada
mereka jalan keluar (Atas segala persoalan), dan di beri rizki dari jalan yang
tidak terduga “ (Q.S Ath-Thalaq 65 : 2-3)
Orang yang betaqwa akan di berikan kemudahan dalam segala urusan, sebagai
mana firman Allah: “ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan
menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusan “ (Q.S Ath-Thalaq 65 : 4)
وَاللائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ
نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللائِي لَمْ
يَحِضْنَ وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْلَهُمِنْأَمْرِهِيُسْرًا
Orang yang bertaqwa akan di tutupi kesalahan-kesalahannya dan akan di
lipat gandakan pahalanya,sebagimana firman Allah :
ذَلِكَ أَمْرُ اللَّهِ أَنْزَلَهُ إِلَيْكُمْ
وَمَنْ يَتَّقِ الله يُكَفِّرْعَنْهُسَيِّئَاتِهِوَيُعْظِمْلَهُأَجْرا ً
“ Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menutupi
kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahalanya “ (Q.S Ath-thalaq 65 : 5)
Orang yang bertaqwa akan diberikan keberkahan dari langit dan dari bumi,
sebagaimana firman Allah :
وَلَوْأَنَّأَهْلَالْقُرَىٰٓءَامَنُوا۟وَاتَّقَوْا۟لَفَتَحْنَاعَلَيْهِمبَرَكٰتٍمِّنَالسَّمَآءِوَالْأَرْضِوَلٰكِنكَذَّبُوا۟فَأَخَذْنٰهُمبِمَاكَانُوا
يَكْسِبُون
“Jika seandainya penduduk suatu negeri Iman dan taqwa, pastilah Kami akan
bukakan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi” (Q.S Al-A’raf 7 : 96)
Dan yang lebih penting lagi untuk di ketahui bahwa orang-orang yang
bertaqwa akan dimasukan oleh Allah dalam surga, sesuai dengan firman-Nya :
و سا رعو اا لى مغفر ة من ربكم و جمة عر ضها اسمو ت و
الارض اعد ت للمتقين
“
Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhan mu dan menuju surga yang
luasnya seluas langit dan bumi, yang di sediakan untuk orang-orang yang
bertaqwa” (Q.S Ali-imran 3 : 133)
Aktualisasi Taqwa dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk mengetahui seseorang
itu bertaqwa atau tidak, hanya bisa dilihat dari bagaimana perilaku dan amal
saleh orang tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karena itu, di dalam
Al-Quran banyak ayat ayat yang menjekaskan tentang ciri ciri atau karakteristik
orang yang bertaqwa, diantaranya sebagai berikut :
Di dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 1-5, dijelaskan bahwa Al Kitab
itu tidak ada keragu-raguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang
mendirika shalat, orang-orang yang menafkahkan sebagian rezekinya, yang beriman
kepada apa-apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang
sebelum kamu, dan orang-orang yang yakin kepada hari akhir.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 177, dijelaskan pula bahwa :
ليس البر ان تو لوا وجو هكم قبل المشرق و المغر ب ولكن البر من امن با لله و
اليوم الا خر و الملئكة والكتب و النبيين و ءا تى الما ل على حبه دوى القربى
واليتمى والمسكين زا بن السبيل و السا ئلين و فى الرقا ب و اقا م الصلو ة ز ءا تى
الز كو ة والمو فو ن بعهد هم ادا عهدوا
والصبرين فى البا ساء والضراء و حين البا س اولئك الدين صدقوا والئك هم المتقو ن
”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur
dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah
beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir, beriman kepada malaikat Allah,
beriman kepada kitab Allah, beriman kepada para nabi, memberikan harta yang
dicintai kepada kerabat dekat, anak-anak yatim, orang miskin, orang yang dalam
perjalanan, orang-orang yang meminta-minta dan memerdekakan budak, mendirikan
shalat, menunaikna zakat, dan orang-orang yang menepati janji apabila ia
berjanji, orang-orang yang sabar baik dalam kesulitan, penderitaan dan
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa.
Selain itu, di dalam Al-Imran ayat
133-135 juga dijelaskan pula :
وسا رعو اا لى مغفرة من ربكم و جنة عر ضها السمو ت و
الا ؤض اعدت للمتقين الدين ينفقو ن فى السر اء و الضر ا ء والضراء
والكا ظمين الغيظ والعا فين عن الناس
والله يحب المحسنين والد ين ادا
فعلو ا فا حشة او ظلمو اانفسكم دكرو االله قا ستغفروا لد نو بهم ومن يغفر الد نو ب الا لله ولم يصر وا على ما فعلوا و هم يعلمون
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhannya dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang
yang bertaqwa, yaitu : orang-orang
menginfaqan rizkinya baik dalam kemudahan maupun kesusahan, yang suka memaafkan (kesalahan) manusia.
Dan Allah mencintai orang orang yang berbuat kebajikan. Dan orang-orang yang apabila berbuat kekejian atau zalim kepada diri sendiri, maka ia segera ingat kepada Allah dan beristigfar kepada Allah atas dosa-dosanya.
Dari ketiga ayat Al-Quran
diatas, dapat dipahami bahwa ciri-ciri orang
bertaqwa itu meliputi hal-halsebagai berikut :
Pertama ,beriman kepada Dzatullah yang al-Ghaib. Beriman kepada Allah bukan hanya
percaya kepada ada-Nya Allah,melainkan harus atas dasar keyakinan setelah
benar-benar mengenal Jati Diri Allah dengan disertai pembuktian.
Kalimat yu’minuna yang terdapat pada ayat Al-Quran
diatas adalah fi’il mudhari’ (berlaku terus menerus) ,artinya selalu mengimani.
Sedangkan kalimat al-ghaib adalah isim mufrad, artinya satu-satunya yang gaib
,dan menggunakan “al” yang berarti isim ma’rifat (khusus, spesifik). Dengan
demikian ,kalimat al-Ghaib berarti satu-satunya al-Ghaib, yakni Diri-Nya Ilahi
(Dzatullah).
Kedua,, mendirikan sholat. Sholat menurut bahasa berarti “do’a” atau “rahmat”. Pengertian
ini diambil berdasarkan firman Allah :
خد من اموا لهم صد قة تطهرو هم و تز كيهم بها و صلى
عليهم ان صلىو تك سكن لهم والله سميع عليم
“Dan
berdo’alah untuk mereka, sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka.
Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui” (Q.S 9:103).
Sedangkan menurut istilah syara’, sholat berarti perbuatan
khusus seorang muslim yang berisi bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan yang
dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Sholat merupakan salahsatu ibadah yang diwajibkan Allah SWT kepada setiap muslim
lima kali dalam sehari semalam dalam waktu-waktu yang telahditentukan.
Sholat merupakan ibadah utama dalam islam dan sebagai tiang agama.
Mendirikan sholat bukan hanya sekedar melaksanakansholat, tetapi melaksanakan sholat
dengan benar dan khusyu’, yakni memenuhi kehendak dari perintah Tuhan yang
terdapat dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat : 14 ” wa’aqimishshalatalidzikri”
(dirikanlah sholat untuk mengingatKu). Sholat khusyu’ yaitu sholat yang
dilaksanakan dengan cara yang menghadirkan hati untuk selalu mengingat Allah
ketikasholat.
Orang yang dapat melaksanakan sholat dengan khusyu’ akan diberikan kebahagiaan
oleh Allah, sebagaimana telah dijelaskan dalam firmannya
قد افلح المؤ منو ن الد ين هم في
صلو تهم خا شعو ن
“sungguh bahagialah orang-orang yang beriman,
yaitu mereka yang khusyu’ di dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun: 1-2).
فو يل للمصلين الدين هم عن صلا تهم
سا هو ن
Apabila shalatnya tidak khusyu’, maka shalatnya sahun(lalai), dan apabila shalatnya lalai diancam dengan
“fawailun” (kecelakaan), sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya: “celakalah
orang-orang yang shalat, mereka yang lalai (sahun) di dalam shalatnya” (QS.
Al-Ma’un: 4-5).
Fungsi shalat bagi manusia merupakan suatu media komunikasi antara hamba dengan
KhalikNya , dengan jalan menghadapkan diri dan hati kepada-Nya. Manakala shalat
itu dilakukan dengan secara khusyu’ dan kontinyu akan menjadi alat pendidikan rohani
yang efektif, memperbaharui dan memelihara jiwa serta memupuk pertumbuhan kesadaran.
Semakin banyak shalat itu dilakukan dengan penuh kesadaran, sebanyak itu pula rohani dan jasmani manusia dilatih
berhadapan dengan Dzat Yang MahaSuci, dan efeknya akan memancarkan akhlak yang
mulia, sikap hidup yang dinamis yang penuh dengan amal shaleh, dan dapat terhindar
dari perbuatan dosa dan kejahatan. Dengan kata lain, bahwa manusia dengan melakukan
shalat yang lima waktu dengan penuh kesadaran dan rasa khusyu’ itu akan berdampak
positif terhadap perilaku manusia yang dapat mengakibatkan manusia terhindar dari
perbuatan keji dan mungkar. Dan hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan Allah
dalam salahsatu firman-Nya:
اتْلُ مَا
أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى
عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُيَعْلَمُمَاتَصْنَعُونَ
“Dan tegakanlah shalat, karena shalat itu dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar”
(QS.Al-Ankabut 29:45)
Ditinjau dari segi kedisiplinan, shalat juga merupakan pendidikan positif yang
dapat menjadikan manusia dan masyarakat menjadi hidup teratur. Dengan melaksanakan shalat sebanyak lima
kali sehari semalam, seorang muslim tentu akan menjadi seorang yang
selalu memperhatikan perjalanan masa dan selalu sadar tentang peredaran waktu. Kesadaran terhadap waktu akan membawa hidup yang teratur dan penuh manfaat.
Selain itu Al-Quran juga menerangkan bahwa pengaruh shalat itu dapat mendidik jiwa manusia dan menyelamatkannya dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar serta membersihkannya daripada naluri-naluri kejahatan yang
merusakan prikehidupan manusia. Allah
menjelaskan :
اتل ما او حي اليك من الكتب و اقم الصلو ة ان الصلو ة تنهى عن الفحشا ء والمنكر و لدكر الله اكبر والله يعلم ما تصنعو ن
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu al-Kitab
(Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan keji dan munkar). Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut 29:45)
Adapun kebalikan daripada itu, Alqur’an menyatakan bahwa meninggalkan shalat itu sebagai tanda tenggelamnya seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan sebagai jalan kejatuhannya ke dalam jurang kecelakaan dan kesesatan. Dan merupakan sebab daripada sebab-sebab kekalnya kelak di dalam api neraka. Allah
berfirman:
فخلف من بعد هم خلف اضا عواالصلو ة و اتبعو ا ا
لشهو ت فسو ف يلقو ن غيا
“maka datanglah sesudah mereka itu suatu kaum yang
menyia-nyiakan shalat serta mempertaruhkan hawa nafsu mereka. Mereka itu kelak akan dilemparkan ke dalam api neraka” (QS.
Maryam19:59).
Dalam ayat yang lain Allah
menjelaskan pula:
كل نفس بما كسبت
رهينة الا اصحب اليمين فى جنت يتساءلون عن المجرمين
ما سلككم فى سقر قالوالم نك من
المصلين
“Tiap-tiap manusia itu adalah tebusan daripada amalan yang diperbuatnya, kecuali orang-orang
golongan kanan. Di dalam surge mereka itu bertanya-tanya tentang nasib orang yang berdosa. Apakah sebab musabab yang
membawa kamu ke dalam neraka ini? Berkatalah mereka: Karena kami dahulunya tidak mengerjakan shalat” (QS.
Al-Muddatstsir 74: 38-43).
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Ditinjau dari segi disiplin, shalat merupakan pendidikan positif yang dapaف menjadikan manusia dan masyarakatnya hidup teratur. Dengan kewajiban shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam, seorang muslim tentu merupakan seorang yang selalu memperhatikan perjalanan masa dan selalu sadar tentang peredaran waktu. Kesadaran tentang waktu akan membawa hidup yang teratur dan hidup yang penuh manfaat.
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, Ditinjau dari segi disiplin, shalat merupakan pendidikan positif yang dapaف menjadikan manusia dan masyarakatnya hidup teratur. Dengan kewajiban shalat sebanyak lima kali dalam sehari semalam, seorang muslim tentu merupakan seorang yang selalu memperhatikan perjalanan masa dan selalu sadar tentang peredaran waktu. Kesadaran tentang waktu akan membawa hidup yang teratur dan hidup yang penuh manfaat.
Selain itu, shalat jugadapat menjadi sarana sebagai pembinaan umat, khususnya dalam shalat /berjama’ah. Umat Islam dalam melaksanakan shalat sangat dianjurkan melakukannya dengan berjama’ah. Bahkan dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim,
Rasulullah menjelaskan bahwa “Shalat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh kali lipat dari pada shalat sendirian”.
Bahkan shalat berjamaah itu diwajibkan melaksanakannya sekali dalam satu minggu yaitu pada waktu shalat jum’at. Melalui shalat berjamaah ini, Islam mendidik pemeluk-pemeluknya bergaul,
bermasyarakat, mempertebal ikatan ukhuwah Islamiyah. Untuk melaksanakan shalat berjama’ah perlu tempat, karena itu mesjidd ibangun, dan di masjidlah shalat berjamaah dilakukan. Sistem berjamaah di masjid mengandung banyak nilai yang penting. Ia mendidik manusia menumbuhkan solidaritas sosial yang kuatdan ajaran persamaan antar manusia. Anggota-anggotanya jamaah duduk dalam satu barisan. Yang miskin berdampingan dengan yang
diistimewakan. Semuanya melakukan gerakan-gerakan
yang serupa dan seirama. Mereka sujud dan ruku’ dengan disiplin atau suatu komando “Allahu Akbar dari imam. Shalat ditutup dengan salam, artinya saling menyatakan selamat,
sejahtera dan damai. Sesudah itu dimanifestasikan dengan saling berjabatan tangan, untuk ikatan perdamaian dan persaudaraan. Sama-sama menyatakan diri sebagai hamba Allah yang bersaudara dan tak ada permusuhan, satu tujuan bersama yaitu mengabdi kepada Allah.
Ketiga, Menginfaqkan sebagian rizki yang di anugrahkan Allah ( Berupa zakat dan
Shadaqah). Allah S.W.T telah banyak menganugrahkan rizki kepada manusia,karena
nya itu manusia di haruskan untuk menyisihkan sebagian rizki nya,baik berupa
zakat,shadaqah,dan lain-lain. Zakat dan shadaqah dapat di katakan sebagai usaha
mensucikan diri dari kemungkinan pemiliknya cinta berlebih-lebihan kepada harta
dan dari kemungkinan memiliki harta kotor yang di sebabkan bercampurnya harta
yang bersih dengan harta yang menjadi hak orang lain dengan jalan memberikan
sebagian hartanya kepada orang yang berhak menerimanya. Zakat dan shadaqah
lebih di arahkan pada penyantunan kaum duafa yang secara langsung di berikan
dalam bentuk bahan konsumtif dengan cara di arahkan pada kegiatan produktif
guna peningkatan kemampuan golongan ekonomi lemah sehingga mereka dapat keluar
dari kemiskinan.
Keempat, Beriman kepada apa-apa yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan
nabi-nabi sebelumnya,yakni (Al-kitab, Al-hikmah dan An-Nubuwwah). Al-kitab,
Al-hikmah, An-Nubuwwah merupakan satu
paket yangg di turunkan kepada para nabi yang harus kita imani. Kitab Allah
adalah wahyu Allah,khalam nya, dan cahaya dirinya. Cahaya dengan yang punya
cahaya bagaikan sifat dan mausuf,bagaikan kertas dan putihnya yangs selalu
menyatu menjadi satu. Kitab yang di maksud adalah kitab yang tidak ada keraguan
di dalamnya sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yakni “Kitabun maknun”,
kitab yang terpelihara (Di lauhmahfudz), kitab yang hanya bisa dipahami oleh
orang-orang yang di sucikan hatinya,sebagaimana di jelaskan dalam Firman Allah:
“La yamassuhu illa Al-muthaharun” (Q.S Al-waqiah : 79).
لايَمَسُّهُإِلاالْمُطَهَّرُونَ
Kelima, Meyakini adanya hari akhir. Hari akhir adalah .kembalinya hamba kepada
asalnya, yakni Allah S.W.T, seperti yang dijelaskan Allah dalam Firman-Nya
Surat Al-Qamar ayat 5 yakni: fi maq’adi shidqin ‘inda malikin muqtadirin” ( Di
tempat yang benar di sisi Tuhan (Raja) yang maha berkuasa). Pulang kembalinke
tempat yang benar, kemudian merasakan betapa bahagianya, betapa gembiranya
selama-lamanya di sisi Tuhan (Raja) yang berkuasa. Untuk dapat kembali kepada
asalnya dengan benar,tentu harus mengenali tempat kembalinya dengan benar yang
tiada lain adalah diri-Nya Illahi dan berusaha mengingat-ingat dan menghayati-Nya
dalam rasa hati. Dan orang yang seperti inilah yang di golongkan kepada orang
yang meyakini hari akhir.
Keenam, Mereka yang menafkahkan rizkinya
di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Dengan kata lain, jika
mereka memiliki uang 1000$ di infaqannya paling tidak 1$, dan jika hanya
memiliki 1000 sen mereka infaqkan 1 sen. Menafkahkan rizki di jalan Allah S.W.T
adalah jalan hidup mereka. Bagi orang-orang yang suuka bersedaqah, Allah S.W.T
( Atas kehendak-Nya) akan menjauhkan mereka dari kesulitan (bala) kehidupan
lantaran kebjikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu,seseorang yang suka
menolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan
ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya.
Ketujuh, Mereka yang dapat mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan orang
lain. Orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain akan mendapatkan pahala
yang besar di hari pembalasan. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Allah S.W.T akan
memberikan pengumuman di hari pembalasan, barang siapa yang memiliki hak atas
Allah S.W.T agar berdiri sekarang. Pada saat itu berdirilah orang-orang yang
memaafkan orang-orang yang kejam yang menganiaya mereka. Nabi Muhammad SAW juga
bersabda : “ Barang siapa berharap mendapatkan istana yang megah di surga dan
berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya mereka mengerjakan hal
berikut ini :
a. Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya
kepada mereka.
b. Memberi hadiah kepada orang yang tidak
pernah memberi hadiah kepada mereka.
c. Jangan menghindari pertemuan dengan
orang-orang yang dengan sengaja memutuskan hubungan dengan mereka
Allah S.W.T memberi petunjuk dengan
sangat indah bagaimana hendaknya kita berprilaku teerhadap musuh-musuh kita
yang paling jahat dalam Surat Fushshilat ayat 34 : “ tidaklah sama perbuatan
baik dengan perbuatan jahat”. Jika kamu membalas perbuatan jahat dengan
kebaikan,maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman karib dan
sejawatmu.
Kedelapan, apabila (orang-orang beriman) terlanjur berbuat jahat atau aniaya ,mereka
ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Selaku manusia biasa,
pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan. Untuk itu, apabila kita terlanjur
melakukannya, maka hendaklah segera ingat kepada Allah dan memohon ampun
kepada-Nya (bertaubat).
Taubat merupakan perjalanan kembali dari sifat-sifat
tercela menuju sifat-sifat terpuji. Orang yang bertaubat dapat dikategorikan
kepada tiga bagian : (1) mereka yang kembali ke jalan yang benar karena takut
kepada adzab dan siksa Allah . Golongan ini disebut “taib” (orang yang
bertaubat), (2) mereka yang kembali ke jalan yang benar karena malu dipandang
Allah. Golongan ini disebut “munib” (orang yang kembali), (3) mereka yang
kembali ke jalan yang benar karena mengagungkan kebesaran Allah. Golongan ini
disebut “awwab” (orang yang senantiasa mawas diri dan kembali).
Kesembilan, beriman kepada Malaikat Allah . Iman kepada malaikat Allah bukan hanya
sekedar percaya kepada malaikat, tetapi bagaimana kita bisa mengikuti jejak
para malaikat yang dengan rela sujud kepada wakil Allah (khalifatullah) di muka
bumi, yakni para Nabi dan Rosul serta para pengganti-penggantinya yang akan
terus ada sampai akhir kiamat.
Kesepuluh, beriman kepada para Nabi dan Rosul Allah. Beriman kepada Rosul adalah
berarti mengimani Rosul yang diutus
Allah yang selalu berada di tengah-tengah umatnya dan berusaha untuk mengikuti
ajarannya dan meneladaninya. Meneledani Rosulullah berarti menjadikan
Rasulullah sebagi figur dalam kehidupan bagi pengikut-pengikutnya , baik
ucapannya, perbuatannya, ilmunya ,amalnya, lahirnya dan batinnya.
Kesebelas, Ash-shabrin (Orang-orang yang sabar). Salah satu sifat yang harus di
miliki oleh orang yang bertaqwa ialah sabar. Sabar ialah meninggalkan segala
macam pekerjaan yang di gerakan oleh hawa napsu,dan tetap pada pendirian agama
dengan semata-mata karena menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat. Sabar itu
merupakan perjuangan dalam menhadapi hawa napsu untuk pulang kembali kepada
Allah S.W.T.
Dalam pandangan sufi, sabar
di bagi menjadi tiga keadaan. Pertama, sabar sebelum taat, ialah niat yang
ikhlas, tujuan yang benar, merasa kewajiban atas keyakinan agama dalam menerima
peraturan berupa perintah atau larangan. Kedua,sabar dalam melaksanakan
ketaatan, yakin melaksanakan kewajiban sampai selesai, berkala atau terus
menerus dengan dengan telah selelsainya pekerjaan, tidak iri hati atas
kekuranan atau kelebihan orang lain, tidak ria untuk di kagumi hasil usahanya.
Selain itu, sabar dilihat
dari hukumnya terbagi tiga bagian juga, yakni: Pertama, sabar dalam menjauhkan
diri dari segala yang haram, dan ini hukumnya wajib. Kedua, sabar dalam
menjauhkan diri dari segala pekerjaan makruh, dan ini hukumnya sunah. Ketiga,
sabar dalam membela kehormatan atau hak milik, dan itu hukumnya haram.
Keduabelas,
ash-shadiqin. As-shadiqin jama dari shadiq artinya orang
yang benar dan jujur. Shadiq adalah isim fa’il yang berasal dari kata shidq
yang artinya lebih dekat dengan sebuah sikap pembenaran terhadap sesuatu yang
datang dari Allah dan Rasul-Nya yang berangkat dari rasa dan naluri keimanan
yang mendalam.
Para ulama
memiliki pandangan yang berbeda tentang makna shidq ini, diantaranya :
-Shidq adalah
menyempurnakan amal untuk Allah
-Shidq adalah
kesesuaian dzahir (amal) dengan batin (iman), karena orang yang berdusta adalah
mereka yang dzahirnya lebih baik dari batinnya.
-Shidq adalah
ungkapan yang hak, kendatipun memiliki resiko yang membahayakan dirinya
-Shidq adalah
perkataan yang hak pada orang yang ditakuti dan diharapkan.
Dari beberapa
ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa seperti
diatas , dapat kita pahami bahwa pada dasarnya takwa itu merupakan akttualisasi
dari ajaran Islam , yang pada realisasinya berupa ketundukan dan kepatuhan kita
kepada Allah dengan menjalankan segala apa yang diperintah-Nya dan menjauhi
segala apa yang dilarang-Nya dengan didasari oleh keimanan yang ada di dalam
hatinya.
Maksud Taqwa
Sebenar-benarnya Taqwa
Yang dimaksud
taqwa sebenar-benarnya taqwa itu menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya ialah :
1.Hendaklah
taat kepada Allah dengan sepenuh hati dan tidak mendurhakainya
2.Hendaklah
selalu bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah ,dan tidak
mengkufurinya
3.Hendaklah
selalu ingat kepada Allah dan tidak melupakannya
4.Hendaklah
selalu berjihad di jalan Allah denga jihad yang sebenar-benarnya
5.Hendaklah
berbuat adil, walaupun terhadap bapa dan anak-anak meraka.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Taqwa adalah
tunduk dan patuh kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi segala larangan-Nya. Untuk dapat menjadi orang seperti itu tentu tidak
mudah, melainkan harus didasari oleh keimanan yang kuat terhadapAllah SWT.Kedudukan taqwa sangat penting sekali bagi
manusia, karena orang-orang bertaqwa akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah
S.W.T selain itu, taqwa juga peranan nya sangat penting bagi manusia, karena
orang-orang yang bertaqwa akan mendapat berbagai macam anugerah dari Allah
S.W.T. Untuk mengetahui seseorang itu bertaqwa atau tidak, hanya bisa dilihat
dari bagaimana perilaku dan amal saleh orang tersebut dalam kehidupannya
sehari-hari.
3.2
Saran
Tulisan ini
dimaksudkan sekedar ikut memberikan sumbangan kecil dalam rangka
menjelaskan bagaimana makna taqwa yang sebenarnya.
Akhirnya mengingat
bahwa segala sesuatu tidak ada yang sempurna, maka jika para pembaca ada yang
menjumpai kekeliruan pada penulisan ini, asupan pikiran dan saran dari para
pembaca merupakan ilmu bagi penulis. Harapan kami semoga pembaca puas dengan
adanya makalah ini.
Berdasarkan
kesimpulan tersebut maka disarankan untuk lebih menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Comments